Tongelresestraat 2.30 AM
Tongelresestraat dini itu
Kelabu,
Putih,
Dingin,
Temaram…
carut-marutnya indera dan hatiku
.
Tongelresestraat dini itu
Langit malam putih kelabu
Salju membelai lembut wajahku
Angin malam mengusik sadarku
Tetaplah sepi menemani hatiku
Hatiku tetaplah sepi
.
Tongelresestraat dini itu
Aspal hitam berlapis garam
Lampu jalan tak seberapa temaram
Jalan lurus panjang berujung malam
Tak bisa kulihat ujung Tongelresestraat dini itu
Pula, ujung perjalanan hidupku
Satu, harus tetap kukayuh sepedaku
.
Tongelresestraat dini itu
Angin malam tak bisa meniupnya
Salju tak bisa hinggap kepadanya
Dia sudah pergi,
Di musim gugur tahun ini
.
Tongelresestraat dini itu
Aspal hitam yang memutih
Lampu malam agak temaram
Jendela museum yang mulai menua
Air kanal setia mengalir meski beku
Kalbuku haru
.
Tongelresestraat dini itu
Kulintasi jembatan yang tak lagi muda
Pun masih tetap bersahaja
Yang penting setia dan berguna, kata dia
Aku tak lagi muda
.
Tongelresestraat dini itu
Aku kedinginan..
Aku kesepian..
Meski salju sudah memelukku
.
Tongelresestraat dini itu
Tetap hanya berujung malam
.
Tongelresestraat dini itu
Hamparan sawah menghijau
Pohon kelapa merayu-rayu
Gunung menjulang biru
Senyuman anak petani sayur
Dongeng negeri ribuan pulau
.
Tak ada fatamorgana dalam salju
Itu hanya anganku
Yang meninggalkanku dengan sepedaku
.
Tongelresestraat dini itu
Aduh! hampir terpeselet aku
.
Tongelresestraat dini itu
Salju semakin tebal memelukku
Angin malam nakal menderu
.
Diujung secercah cahaya
Ternyata,
Tongelresestraat dini itu
Tak berujung malam
.
Kulihat warna-warni
Merah kuning hijau
Ujung jalan panjang itu
Sebuah perempatan!
.
Tongelresestraat dini itu
Jalan hidup selalu berujung pilihan
Dan kayuhku harus semakin laju