Planet EL02ITB

May 11, 2012

bramantyo

Recently, I purchased Thinkpad Edge e125 to replace my previous Thinkpad X100e which now is being used by my sister. We, myselft and wife, has been happy using thinkpad 12″ series. They are slim, light and durable. I also love the design, which to my opinion is simple.

As Ubuntu is our favorite Linux distribution and my wife is using it at her office, so this time again, we’d like to have Ubuntu in this Thinkpad. Latest version that I have is 11.04 (natty narwhal) so, at first I installed this version. It was a bit disappointing that screen resolution was only 1280 x 720 maximum. Then I got myself latest Ubuntu distribution, 12.04 (precise pangolin), re-installed (I remember there was no option to upgrade from 11.04 to 12.04) on the same disk partition and voilà…the nice 1366 x 768 resolution showed perfectly!

The good thing is that this is not just stop right here, there are some problems adjustments that needs to be done. The “Dash Home” does not show anything while it should shows some recent applications icons, recent documents, etc. Turns out that this was a bug and already fixed. As I did fresh install, easiest thing is just to update and upgrade. Problem was solved.

Another new thing is name server configuration. In Ubuntu 12.04, changing name server definition is using new approach, instead of editing /etc/resolv.conf. There is an explanation in http://www.stgraber.org/2012/02/24/dns-in-ubuntu-12-04/ , but I’d rather to choose method on http://www.liberiangeek.net/2012/05/setup-static-dns-servers-in-ubuntu-12-04-precise-pangolin/. As I connect through wifi, after editing /etc/dhcp/dhclient.conf, I need to “sudo restart network-manager” to make changes take effect.

That’s it for now!


May 08, 2012

Hari ke-23 : Ramadhan dan Kurban

Sudah sering kutulis cerita tentang Ramadhan dan Kurban di Taiwan di blog ini, tapi kok rasanya tidak lengkap kalau tidak diikutkan lagi dalam edisi 30 Hari di Taiwan. Aku mengalami Ramadhan di Taiwan dari tahun 2007 hingga 2010. Ada yang sebulan penuh, ada yang hanya separuh bulan karena kemudian ber-Lebaran di Indonesia. Jelas sangat berbeda bagaimana rasanya suasana berpuasa dan ber-Hari Raya di sana. Tidak ada suasana seperti layaknya di Indonesia yang tiba-tiba semua stasiun televisi dan mal-mal berubah menjadi Islami, restoran yang menutup etalase jendela-jendelanya, semarak jajanan sore menjelang berbuka, gadis-gadis yang menutup rambut dan telinganya dengan kerudung, serta aktivitas masyarakat yang melambat seakan minta dimaklumi karena berpuasa. Di Taiwan, semua itu tidak ada. Bulan puasa sama saja dengan bulan-bulan lainnya. Pasar-pasar malam selalu ramai dengan jajanan-jajanan pasarnya, tidak ada suara-suara solat tarawih dari corong-corong speaker masjid di malam hari. Orang-orang tetap bekerja dengan semangat workaholic-nya, tidak ada tanda-tanda seperti sedang turun mesin. Begitu juga dengan cara berpakaian, sama-sama mengikuti musim.

Dan tentang musim, ini lah yang membuat puasa di Taiwan lebih menantang. Dari empat musim yang ada, ada 2 musim yang menambah tantangan berpuasa di Taiwan yaitu, musim panas dan musim dingin. Di musim panas, waktu berpuasa lebih panjang. Walaupun tidak terlalu ekstrem seperti di negara-negara yang lebih ke utara atau selatan, sebagai orang yang besar di khatulistiwa, adanya sedikit perbedaan tetap saja memberikan pengaruh. Ditambah lagi, di musim panas badan menjadi lebih cepat berkeringat. Namun tantangan fisik ini belum seberapa jika dibandingkan godaan-godaan yang berseliweran di depan mata ketika busana-busana para wanitanya sangat minim. Berpuasa di musim dingin bisa lebih menjaga mata. Sebab saat itu fashionnya adalah pakaian-pakaian tebal. Keuntungan lainnya, waktu berpuasa lebih singkat. Nah, kalo di musim dingin ini lebih berat di tantangan fisik karena suhu yang rendah membuat perut cepat merintih minta diisi. Aku sendiri sebenarnya tidak merasakan penuh bagaimana berpuasa di 2 musim tersebut. Ketika pertama kali datang ke Taiwan, Ramadhan datang ketika baru menjelang musim dingin. Sedangkan di beberapa tahun terakhir aku di Taiwan, Ramadhan datang ketika musim panas akan berakhir. Ya setidaknya pernah merasakan sensasinya.

Awal-awal puasa di sana, ada satu hal yang menjadi kendala. Sahur. Tidak seperti ketika di Indonesia yang saat menjelang sahur ada yang membangunkan. Begitu bangun pun, makanan sudah lengkap tersedia di meja makan. Sahur di Taiwan, yang membangunkan adalah alarm yang tidak bisa bertanggungjawab akan bangunnya si empunya. Begitu bangun pun, bingung mau makan apa. Yang terpikir saat itu adalah berjalan ke 7-11 terdekat, membeli roti, dan susu hangat. Nggak jarang juga makannya sambil terburu-buru karena bangunnya terlalu mepet dengan adzan Subuh. Di pertengahan awal puasa, sahur tidak lagi sekedar roti. Masjid memberikan sisa-sisa makanan berbukanya untuk dibawa oleh pasukan pencuci piring. Aku bersama teman sekamar mulai giat mencuci piring setelah berbuka di masjid. Meskipun biasanya yang diterima tinggal nasil, sayur, dan lauk non-hewani, karena lauk-lauk yang berupa daging baik itu daging ayam, ikan, sapi, atau kambing sudah ludes ketika makan malam. Di tahun-tahun berikutnya, sahur lebih santai tenang. Meski masih perlu pengorbanan mengayuh sepeda ke kampus tetangga di pagi-pagi buta. Di kampus tetangga banyak mahasiswa Indonesia, mereka mengkoordinasikan pelaksanaan sahur bareng. Aku ikut nebeng sahur di sana dengan membayar iuran yang sudah disepakati. Ketika pindah ke apartemen, sahur kadang teratur, kadang juga tidak. Kadang sempat masak, kadang makan apa yang ada saja. Teman-teman di apartemen punya masalah yang sama denganku untuk urusan bangun sahur.

Berbeda antara sahur dengan berbuka. Untuk berbuka, tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Masjid menyediakan tajil sekaligus makan malam selama bulan puasa Ramadhan. Maka di bulan puasa ini biasanya uang beasiswa urung keluar dari rekening tabungan. Untuk tajilnya, ada 2 macam bubur yang biasanya disediakan. Bubur kacang merah yang rasanya sedikit manis, dan bubur beras berwarna hijau yang rasanya seperti bubur ayam. Aku cenderung memilih bubur yang pertama. Selain bubur biasanya ada teh tawar panas, buah-buahan dan kurma. Mekanismenya sendiri, masjid membuka ruang makan sekitar 30 menit sebelum adzan magrib. Meja bundar disusun sedemikian rupa dan dilapisi dengan plastik. Kursi-kursi ditempatkan mengelilingi meja. Satu meja dikelilingi oleh 10 kursi, dan biasanya bisa ditambah hingga tidak ada ruang kosong lagi untuk disisipi. Lima menit menjelang berbuka, kursi-kursi sudah mulai penuh. Sering ditambah lagi meja-meja dan kursi-kursi untuk menampung jamaah yang baru datang. Setelah berbuka dengan tajil, dilakukan solat Magrib berjamaah. Setelah solat Magrib selesai, kita kembali lagi ke meja makan untuk menyantap makan malam. Selesai makan malam, pasukan pencuci piring melaksanakan tugasnya hingga adzan Isya tiba. Itu yang terjadi di masjid besar. Sedangkan di masjid kecil, acaranya mirip seperti itu, yang membedakan tidak ada urusan cuci-cuci piring. Dan juga di masjid kecil, makanannya sangat Pakistani.

Tarawih. Yang menyenangkan dari tarawih di sana adalah tidak adanya ceramah. Walau di masjid besar biasanya ada ceramah singkat untuk mengisi waktu sebelum adzan Isya, tapi di tengah-tengah antara solat Isya dan Tarawih, tidak ada ceramah sama sekali. Sedangkan di masjid kecil, memang tidak ada ceramah sama sekali. Namun bukan berarti waktu solatnya jadi lebih cepat. Di kedua mesjid di Taipei sama-sama menerapkan tarawih 20 rakaat, ditambah 3 rakaat witr. Solat tarawih di mesjid besar realtif lebih cepat, karena bacaan suratnya pendek-pendek. Berbeda dengan solat tarawih di masjid kecil yang bacaannya satu juz dalam satu malam. Jangan heran karena imam di masjid kecil biasanya imam yang hafiz Quran. Khusus datang ke Taiwan untuk menjadi imam selama bulan Ramadhan. Di awal-awal bulan, solat tarawih di sana bisa lebih dari satu jam. Menjelang akhir-akhir Ramadhan menjadi sedikit lebih cepat karena memang biasanya digeber di awal, sehingga di akhir-akhir ayat-ayat dan surat yang tersisa tinggal sedikit. Entah karena makanan di mesjid kecil kurang banyak atau karena panjangnya bacaan solat, jamaah di sana tidak sebanyak jamaah di mesjid besar.

Idul Fitri. Sama sekali berbeda nuansanya. Pertama kali Lebaran di Taiwan, di siang harinya masih ada kelas. Solat Ied dilakukan di masjid besar sekitar pukul 8 pagi. Di mesjid kecil juga dilakukan beberapa saat setelah mesjid besar. Meskipun hari kerja, mesjid tetap terisi penuh. Jika kebetulan bertepatan dengan hari libur, jamaah bisa lebih membludak. Tata cara solat Ied-nya agak berbeda, terutama di rakaat ke-2 yang takbirnya tidak dilakukan setelah berdiri dari sujud rakaat pertama, melainkan sebelum ruku’ di rakaat ke-2. Walaupun sudah berkali-kali solat Ied di sana, terkadang aku masih juga terkecoh dengan urutannya. Setelah solat Ied, disediakan makanan ringan dan teh susu hangat di depan pelataran mesjid yang disediakan oleh pihak mesjid. Tidak bisa menghilangkan tradisi di dalam negeri, pejabat dari KDEI suka mengadakan open house di rumahnya. Di situlah kesempatan kita untuk makan opor ketupat saat Lebaran. Dan beberapa hari setelah Lebaran, KDEI juga mengadakan Halal bi Halal dengan masyarakat Indonesia yang ada di Taiwan.

Ketika Idul Kurban, teman-teman mahasiswa Indonesia yang muslim mengumpulkan infak yang nantinya digunakan untuk membeli kambing kurban. Harga kambing di sana memang cukup fantastis. Harga seekor kambing di Taiwan jika dikonversi ke rupiah bisa dibelikan 2 hingga 3 kambing di Indonesia. Dari kambing yang dibeli tersebut, beberapa bagiannya untuk disedekahkan dan secukupnya untuk dimasak bersama. Jadi di hari kurban itu teman-teman Indonesia cukup sibuk meracik bumbu, memotong-motong daging, menusuk-nusuk sate, memasak nasi, dan mempersiapkan keperluan-keperluan lainnya untuk makan bersama di malam hari. Apabila hari kurban tidak bertepatan dengan hari libur, maka masak bersamanya diundur ke akhir pekan. Di Taipei, untuk pertama kalinya aku menyembelih kurban. Idul Adha terakhirku di Taipei, dilakukan di Taipei Main Station. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang selalu di mesjid besar.

May 02, 2012

an arabian night

So it was four of us, me and three of my friends, wondering where and what will we have for lunch. “let’s just go out first, we’ll see later la!”, my friend said. nice idea and sounded easy -IF- we were not in the middle of this 50 degrees celsius desert.. :)

Super dry air and instant heat smash our face as we go out from the building. we ask some random guy in the security office, “sorry, do you know where can we find food store?”. he explained, “ahh.. just go that way. about 2kilos from here”. Pakistani dialect came out from his mouth, so familiar..

Me and my friends were looking at each other, telepathically saying “so, wanna try to go out there?”. and before we came to a decision, this Pakistani guy breaking in into our hopelessness saying “my friends, let me take you there!”. what a nice guy..

—————————

the food store serves local Arabian food. and as soon as we get in, all of the customers were staring at us. hahah, feels like a model.. no problemo, maybe they have never seen 4 cool telco engineers in the middle of a desert ;)

we grabbed some chicken curry and 2 big plates of rice, and get out. as we walk just 20 meters from the store, I was just joking raising my thumb like a hitchhiker in hollywood movies. my friends were just laughing, as suddenly this car stopped next to us. from inside, the driver’s hand was waving at us, giving a friendly gesture saying ‘come in!’

I came to him and asked, “how much?”, as I’m sure he will charge us some fee. and this random guy said, “just get in, my friend”. wow.. not just we were so happy to have such a lucky free ride, but also this guy’s voice was extremely funny. it’s like a girl voice, very contradictory with his rough face. hahah.. oh, he was a Syrian guy, by the way.

—————————

just a random day, meeting 2 random guys from 2 random countries, doing random act of kindness..

hmm, I really need to make myself useful to others.


Hari ke-22 : Belajar Mandarin

Bahasa Mandarin adalah bahasa asing ke-4 yang pernah kupelajari selain bahasa Inggris, bahasa Jepang, dan bahasa Jerman. Jangan tanyakan kemampuanku terhadap dua bahasa terakhir yang disebut. Bisa dibilang hampir hilang. Bahasa Jepang pernah dipelajari hanya beberapa minggu sebelum berangkat ke Fukuoka untuk pertukaran budaya sewaktu kelas 1 SMP. Itu pun hanya untuk kalimat-kalimat perkenalan dan kata-kata yang sering dipakai. Sedangkan untuk bahasa Jerman, dipelajari di kelas 1 SMA yang saat itu memang mengharuskan siswanya untuk memilih salah satu bahasa asing di antara bahasa Jepang, bahasa Perancis, bahasa Jerman, dan bahasa Arab. Kalau ditanya alasannya mengapa memilih bahasa Jerman, dulu sekali memang punya cita-cita ke Jerman. Sampai sekarang sih masih. Tapi ada yang berubah dari tujuan ke Jerman itu sendiri. Kalau dulu untuk kuliah dan masuk Bundesliga, kalau sekarang mungkin untuk foto-foto atau bikin video travelling sambil mengukur luasnya bumi.

Perkenalan dengan bahasa Mandarin bermula setelah diterima kuliah di Taiwan. Lengkapnya bisa dibaca di sini. Terakhir kali aku lewat Arteri, tempat kursus itu sudah nggak ada lagi. Apa yang dipelajari waktu itu sebenarnya tidak terlalu banyak membantu ketika sampai di Taiwan. Indera pendengaranku tidak cukup pandai menyeleksi kata-kata apa saja yang diucapkan oleh orang-orang Taiwan untuk bisa diterjemahkan oleh database hasil mengingat-ingat sewaktu kursus dulu itu. Sama buruknya dengan telinga, indera pengucap juga tidak dapat melafalkan kata-kata bahasa Mandarin dalam nada yang benar. Yang terjadi adalah walaupun aku merasa sudah menggunakan bahasa Mandarin, namun karena tidak ditunjang dengan nada yang benar dan wajah yang oriental, mereka tetap menganggapku menggunakan bahasa asing. Lebih baik give up dan menggunakan bahasa Inggris. Syukur kalau mereka mengerti. Kalau tidak mengerti juga, bahasa tubuh. Tidak bisa disangkal, bahasa tubuh adalah bahasa yang paling universal.

Untuk mahasiswa internasional, kampus memberikan harga diskon 50% selama setahun atau setara dengan 2 semester berturut-turut untuk mengikuti kursus bahasa Mandarin di lembaga bahasa yang dimilikinya. Aku mengambil kesempatan ini meski bisa dibilang lumayan mahal. Biaya normal per semester saat itu sebesar 18,000 NT (+ 5,4 juta Rupiah). Karena didiskon, maka jumlah itu digunakan untuk 2 semester. Satu semesternya kurang lebih 16 minggu, dan dalam seminggu kita bisa memilih di antara 2 alternatif waktu. Bisa 3 kali pertemuan dengan durasi pertemuan selama 2 jam. Atau, 2 kali pertemuan dengan durasi masing-masing per 3 jam. Aku memilih yang ke-2. Kalau tidak salah hari belajar yang kupilih waktu itu Selasa dan Kamis.

O ya, sebelum ikut kursus bahasa, semua mahasiswa diuji dulu kemampuan bahasa Mandarinnya. Ada listening, reading, dan writing. Dalam menjawab, mungkin aku tidak berpikir sama sekali. Isi saja semuanya tanpa mencoba mengerti arti dari soal-soal itu. Anehnya setelah hasilnya keluar, aku tidak ditempatkan di kelas yang paling dasar. Rupanya instingku dalam menebak-nebak jawaban lumayan juga. Tapi akhirnya aku memilih untuk diturun-kelaskan. Yah, daripada nanti masuk kelas malah celingak-celinguk nggak ngerti apa-apa.

Kelasnya sendiri merupakan kelas kecil. Hanya terdiri dari 5 murid dan seorang guru atau laoshi. Di antara kelima murid itu, aku yang paling muda. Teman-temanku, seorang dari Kolumbia, 2 orang dari Vietnam, dan seorang dari Yunani. Beruntunglah guru kami waktu itu wanita, masih muda dan manis. Satu-satunya wanita di kelas itu karena semua muridnya adalah laki-laki. Teman Kolumbia ini mengambil jurusan MBA. Dia pernah bekerja sebelumnya. Fasih berbahasa Inggris dan Spanyol. Fans Chelsea, dan jago main bola. Dia ikut klub sepakbola kampus. Namanya Camilo Osuna. Dua orang temanku dari Vietnam adalah mahasiswa PhD. Kalau tidak salah sih jurusan Teknik Sipil. Yang satu bahasa Inggrisnya parah tapi masih bisa dimengerti, satu lagi parah dan membingungkan. Namanya Qi Long dan Wen Long. Qi Long juga suka bermain bola. Dan seperti layaknya pemain-pemain bola Vietnam, dia ulet dan gigih dalam bermain. Yang dari Yunani, aku lupa namanya. Dia bekerja di Taiwan dan menikah dengan orang Taiwan. Sering tidak masuk karena mungkin sibuk dengan pekerjaannya. Dia hanya bertahan satu semester. Sedangkan yang lain, 2 semester. Dan laoshi kami yang manis itu namanya ShuFan. Ekspresinya lucu ketika ia kebingungan menerangkan makna dari suatu kata dalam bahasa Inggris. Ia juga tidak pernah marah di kelas. Satu lagi, ia jago main gitar. Dia pernah mengajarkan lagu kesukaannya di kelas.

Pelajaran dimulai dari hal yang sangat mendasar. Nada. Keunikan bahasa Mandarin dibanding dengan bahasa lain. Setelah nada, kami belajar BoPoMoFo. Bisa dibilang inilah satuan terkecil dalam suatu kata, seperti layaknya huruf. Berikutnya, kami belajar kata-kata baru dan struktur kalimat. Mungkin dua hal itu saja yang terus menerus dipelajari. Semakin hari kata-kata yang harus dihafal makin banyak. Baik itu karakternya, bunyi, juga arti. Yang paling menantang adalah cara menulisnya. Kalau mau benar-benar teliti, guratan-guratannya memiliki urutan. Jadi walaupun hasil akhirnya mungkin sama, ketika urutannya tidak benar kami bisa disalahkan oleh laoshi.

Entah sudah berapa ratus kata yang dulu pernah hapal, tapi sekarang ya sudah hilang begitu saja. Benar perumpamaan ingatan ibarat pisau. Tak pernah diasah tak akan tajam. Ditambah lagi, aku memang setengah hati dalam mempelajari bahasa Mandarin dan tidak ada keterpaksaan. Bahasa Inggris lebih nyaman digunakan meski masih belepotan juga dengan grammar-grammar dan vocab-nya.

Tapi masalah bahasa ini kan intinya komunikasi. As long as we understand each other, it is all okay then. :)

May 01, 2012

April 27, 2012

Daftar Tools/SDK/Engine Untuk Pengembangan Aplikasi Augmented Reality

Berikut ini daftar tools/SDK/engine untuk pengembangan aplikasi Augmented Reality yang saya gabungkan dari berbagai sumber (#1, #2, #3):


Berbasis Marker & Gambar:
  1. ARToolKit
  2. FLARToolKit
  3. FLARManager
  4. SLARToolKit
  5. NyARToolKit
  6. D'Fusion Studio
  7. metaio Unifeye Design
  8. IN2AR
  9. ATOMIC Authoring Tool
  10. OpenSpace3D
  11. Junaio
  12. ARmedia Augmented Reality Plugin
  13. Aurasma
  14. AndAR
  15. ArUco
  16. BazAR
  17. DroidAR
  18. flare*tracker
  19. flare*nft
  20. Goblin XNA
  21. instantreality
  22. iPhone ARKit
  23. LinceoVR
  24. Eligo
  25. Minerva
  26. MXRToolkit
  27. Popcode
  28. PTAM
  29. Qoncept AR
  30. Robocortex
  31. SSTT
  32. String
  33. osgART
  34. Studierstube
  35. Vuforia AR
  36. Win AR
  37. windage
  38. YVision
  39. ALVAR
  40. Layar
  41. SATCH
  42. buildAR
  43. onvert
  44. Serge

Berbasis GPS:
  1. Layar
  2. Wikitude
  3. Junaio
  4. Aurasma
  5. 3DAR
  6. DroidAR
  7. instantreality
  8. KHARMA
  9. mixare
  10. LibreGeoSocial
  11. buildAR

Berbasis Face Recognition:
  1. Viewdle
  2. Beyond Reality Face
  3. metaio Unifeye Design
  4. instantreality
  5. Luxand FaceSDK
  6. SHORE

Berbasis Skeleton Tracking:
  1. Kinect for Windows SDK
  2. PrimeSense OpenNI/NITE
  3. AIRKinect
  4. OpenSpace3D

Mohon informasinya jika ada yang dapat ditambahkan (atau dikurangi) lagi dari daftar tersebut. :)
Siapa tau ada tools menarik lain di luar sana yang masih kurang dikenal tapi ternyata sangat powerful! :D

Catatan: list ini sedang dan akan selalu saya update setiap kali menemukan tools baru seputar AR, jadi sering-sering aja ditengok. ;)